Oleh : Budi Purnomo Karjodihardjo

Saat ini Starbucks Indonesia menghadapi permasalahan komunikasi sehubungan dengan munculnya seruan boikot dari opinion leader, baik dari individual, organisasi, maupun publik.

Jika tidak ditangani secara cepat dan tepat tentu bisa menjadi persoalan yang lebih besar bagi korporasinya, dan bisa menjadi preseden yang tidak baik bagi korporasi sejenis.

Persoalan datang ketika bos Starbucks mendukung pernikahan sejenis. Dari berbagai pemberitaan, CEO Starbucks Howard Schultz dianggap mendukung gerakan gay dan LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender).

Kemudian organisasi muslim berpengaruh, yaitu Pengurus Pusat (PP) bidang ekonomi merespon cepat dengan menyerukan boikot terhadap produk Starbucks. Boikot itu sebagai bentuk protes terhadap pernyataan Howard Schultz itu.

Melalui Ketua Bidang Ekonominya Anwar Abbas, Muhammadiyah minta pemerintah untuk mencabut izin Starbucks di Indonesia karena, ideologi bisnis dan pandangan hidup yang dikembangkan Starbuck jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa Pancasila.

Sikap Schultz ini, menurut Anwar, akan menjadi acuan atau pedoman bagi seluruh pimpinan Starbucks di seluruh Indonesia termasuk di Indonesia. Karena itu pemerintah diminta mempertimbangkan pencabuan izin Starbucks di Indonesia.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mujahid memuji respon Muhammadiyah soal Starbucks. Dengan alasan dan argumen itu, kita jadi paham dan salut kepada PP Muhamadiyah yang meminta pemerintah mencabut izin usaha dan mengajak boikot produk starbucks, tegas Sodik.

Sodik menyebut dukungan Schultz terkait gerakan LGBT sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia. Semua pihak harus berani melawan upaya apapun yang akan merusak dan menghancurkan nilai-nilai Pancasila, apalagi para perusak nilai Pancasila yang datang dari luar, sambil mencari kehidupan di Indonesia seperti Starbucks.

Kontan saja tagar #BoikotStarbucks jadi menggema di dunia maya karena menjadi perbincangan yang aktual pasca Hari Raya Idul Fitri Idul Fitri

Respon Starbucks dan Solusinya

Pada saat artikel ini ditulis, belum ada respon resmi dari pihak Starbuck Indonesia. Dari googling kita belum menemukan respon resmi dari jaringan cafe terbesar di dunia itu.

Memang tidak gampang merespon persoalan ini secara cepat, karena isu yang dibawa menyangkut persoalan yang sangat krusial, yaitu menyangkut persoalan ideologi, yaitu agama dan Pancasila.

Bisa jadi pihak manajemen masih terkejut dengan peristiwa ini, tapi bisa jadi pula manajemen masih gagap untuk menentukan langkah-langkah penyelamatan komunikasi ke depannya.

Krisis komunikasi ini sangat berbahaya karena akan merembet kepada penjualan yang tentunya berpengaruh terhadap kinerja keuangan secara fisik dan kinerja harga sahamnya di pasar modal. Asal tahu saja, kinerja keuangan dan kinerja saham adalah darah bagi korporasi.

Respon komunikasi Starbucks sangat ditunggu-tunggu, karena sangat penting untuk kajian ilmu komunikasi, mengingat Starbucks adalah perusahaan multinasional yang sangat populer, dan cabangnya menyebar ke suluruh wilayah Indonesia.

Diam saja juga sebenarnya merupakan respon komunikasi, tetapi menurut saya, Starbuck Indonesia harus memiliki strategi komunikasi yang tepat untuk mengatasi persoalan ini.

Padahal, sebenarnya ada beberapa strategi komunikasi yang jitu dan efektif, yang setidak-tidaknya mampu mengurangi himpitan terhadap persoalan krisis yang saat ini menimpa Starbucks, jika diluncurkan pada saat yang tepat.

Misalnya, pertama, manajemen Starbucks Indonesia bisa menjelaskan kepada publik bahwa visi dan misi besar Starbucks Indonesia adalah baik dan sesuai dengan ideologi bangsa. Apa sisi baik, dan kesesuaikannya silahkan, jelaskan saja.

Kedua, mananjemen Starbuck Indonesia bisa menjelaskan bahwa sebenarnya ada great wall yang sangat besar baik antara ideologi korporasi Starbuck dengan personal-personal manajemennya. Silahkan, jelaskan apa perbedaannya. Secara korporasi di Indonesia, Starbucks sudah memenuhi prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara peraturan di Indonesia.

Ketiga, Starbuck Indonesia bisa melibatkan stakeholder dengan mengoptimasi karyawan-karyawannya untuk menjelaskan kepada publik bahwa mayoritas karyawannya adalah penganut agama yang taat, Pancasilais dan juga menentang LGBT.

Keempat, untuk mengatasi krisis ini, bisa juga dengan menerapkan prinsip-prinsip pada teori komunikasi Image Restoration (Pemulihan Citra) milik Prof. William Benoitt untuk mengembalikan citra Starbuck Indonesia. Mengenai teori Image Restoration ini, pernah saya tulis dan jika dijelaskan di sini, tentu terlalu bertele-tele.

BACA JUGA : Pemulihan Citra dengan Pendekatan Image Restoration Theory

Situasi krisis komunikasi publik seperti ini bisa terjadi kepada siapa saja, dulu menimpa Sari Roti, kebetulan saat ini menimpa Starbucks. Semoga Starbucks Indonesia kali ini dapat menyelesaikan permasalahannya secara menguntungkan bagi semua pihak, win-win solutions.

Dalam setiap persoalan, memang selalu ada sisi positifnya, membawa pesan dan hikmat kepada perusahaan lainnya, yaitu agar para pemimpin korporasi berhati- hati dalam memberikan pernyataan, apalagi dalam situsi khusus, ataupun statemen yang sensitif bagi publik.

Budi Purnomo Karjodihardjo S.Ikom, M.Ikom, MIPR, adalah praktisi media dan komunikasi, pendiri Indonesia Media Center (IMC), dan Jaringan Sapu Langit (JSL), pengelola Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI), dan jaringan media siber Hallo Media Network (HMN).