Oleh : DR. M. Kapitra Ampera, SH. MH.

Penyidikan Kasus Habib Rizieq Shihab yang barang buktinya di dapat penyidik melalui intersepsi (penyadapan) oleh pihak yang tidak berwenang (Ilegal), dilakukan oleh situs website www.4n5hot.com dan situs www.baladacintarizieq.com bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, antara lain:
1. Pasal 28F UUD 1945,
2. Pasal 40 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 Tentang Telekomunikasi,
3. Pasal 31 ayat (1) dan (2) Undang-undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,
4. Putusan MK No. 5/PUU-VIII/2010 tanggal 24 Februari 2011,
“… bahwasanya penyadapan memang merupakan bentuk pelanggaran terhadap rights of privacy yang bertentangan dengan UUD 1945…”
5. Putusan MK No. 20/PUU-XIV/2016 tanggal 7 September 2016
“ bahwa setiap intersepsi harus dilakukan secara sah, terlebih lagi dalam rangka penegakan hukum.”
“ … bahwa tindakan melakukan perekaman yang dilakukan diam-diam, tanpa ijin dan bukan oleh lembaga yang berwenang adalah merupakan pelanggaran HAM, maka hasilna tentu saja TIDAK DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI ALAT BUKTI YANG SAH DALAM PROSES PENYIDIKAN MAUPUN PERSIDANGAN karena segala bentuk tindakan termasuk namun tidak terbatas tindakan perekaman haruslah dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.”
6. Pasal 17 Kovenan International Hak-Hak Sipil dan Politik sebagaimana diratifikasi dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 2015

Bahwa, kewenangan Intersepsi (penyadapan) secara tegas oleh undang-undang diberikan kepada instansi sebagai berikut:
1. Pasal 31 ayat (3) dan Penjelasan Pasal 5 ayat (2), Undang-undang No. 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik,

2. Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
3. Pasal 75 huruf i Undang-undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika,

4. Pasal 31 ayat (1) huruf b, Undang-undang No. 15 Tahun 2003 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 1 Tahun 2002 Tentang Tindak Pidana Terorisme menjadi Undang-undang,

5. Pasal 31 Undang-undang No 17 Tahun 2011 Tentang Intelijen Negara.

Kesimpulan :
Bahwa, alat bukti dalam kasus Habib Rizieq Shihab di dapat (intersepsi/penyadapan) secara Ilegal yang dilakukan oleh pihak yang tidak berwenang, tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah dalam proses penyidikan maupun persidangan, karena merupakan pelanggaran terhadap HAM, Rights of Privacy dan bertentangan dengan UUD 1945.

Saran :
Dimohonkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia untuk memerintahkan Penyidik/Polri agar menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan kepada Habib Rizieq Shihab karena melanggar peraturan perundang-undangan khususnya putusan Mahkamah Konstitusi No. 20/PUU-XIV/2016 tanggal 7 September 2016.

DR. M. Kapitra Ampera, SH. MH.

Koordinator Tim Advokasi GNPF MUI